My First Story
Prolog
Motivasi
dan isnpirasi dari para tokoh besar hampir selalu bisa membuat orang yang kecil
merasa dirinya bisa menjadi besar. Tidak terkecuali bagi seoarang anak kecil
yang lahir dari sebuah keluarga sederhana yang tergugah ingin menjadi orang
besar. Anak kecil yang selalu berpikiran ingin menjadi sosok besar. Mimpinya
cukup sederhana “aku ingin menjadi seorang ayah yang hebat”. Mimpi yang sangat
besar bagi seorang anak yang sangat kecil.
Berlarian sepanjang hari saling
mengejar satu sama lain merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak kecil,
tidak hanya itu terkadang memancing dan mandi di sungai juga bisa menjadi
kesenangan yang sangat mewah dikarenakan
ia bisa bersantap ria dengan teman teman tanpa harus mengeluarkan rupiah
sepersenpun. Dan ini lah kegiatan yang
sehari hari dilakukan oleh anak kecil ini . terkadang dia ketahuan sedang
memancing di sungai oleh orang tuanya dan terkadang dia bisa pulang dengan
perut kenyang.
Dia
berasal dari keluarga terpandang di desanya. Itu karena sang nenek yang
merupakan orang paling kaya di desa itu. Sang nenek merupakan seorang
distributor sayur sayuran yang membawa hasil pertanian dari desa untuk dijual
dikota. Sehingga anak ini bisa menikmati masa kecilnya tanpa harus memikirkan
beban apapun.
Akan
tetapi sang ayah berbeda dengan si nenek. Sang ayah adalah orang yang keras
yang selalu menyiapkan anak anak lelakinya untuk siap menjalani kehidupan di
dunia yang keras ini. Sang ayah selalu mengingatkan bahwa sebagai anak laki
laki kita harus siap memimpin dan harus siap menjadi pemimpin. Pada saat itu
sang anak masih belum mengerti tentang apa yang dikatan oleh sang ayah tapi
kelak ia akan sangat berterimakasih karena cara mendidik sang ayah yang keras
yang membuatnya siap menyelami kehidupan yang keras ini.
Di
usia yang sangat hijau ini sang anak harus mengalami kepahitan hidup yang
sangat luar biasa. Yang semula ia bisa bermain tanpa memikirkan apapun hingga
sekarang ia harus berfikir sebelum ingin bermain. Yang semula ia bisa membeli
semua mainan baru sekarang ia hanya bisa memikirkan main tersebut sepanjang
malam. Karena sang nenek orang paling kaya di desanya jatuh miskin. Sang anak
tidak faham kenapa sang nenek yang awalnya bergelimang harta tiba tiba bisa
menjadi semiskin ini.
Setelah
kejadian yang pahit yang menimpa masa kecilnya. sang anak tumbuh dengan pribadi
yang berbeda diantara anak kecil yang lain. Di saat teman temanya asik menempuh
Pendidikan yang tinggi dia harus berpanas panasan di bawah terik untuk mencari
nafkah Bersama sang kakak. Di saat teman temanya sedang tertidur pulas dia
harus memperhatikan jalan sekaligus menemani sang sopir menebus gelapnya malam.
Dan berkat pelajaran hidup keras dari sang ayahlah yang membuat anak yang
seharusnya menduduki bangku sekolah menengah pertama ini mampu menghadapi
kerasnya dunia.
Anak
kecil inilah yang kelak menjadi kebanggan dari sebuah keluarga, seoarang
pemimpin keluarga yang hebat dan juga seorang ayah yang siap menerjang dunia
agar anak anaknya dapat menempuh kehidupan yang nyaman.
1.
Mulai
Di
sore yang hangat terdengar suara perempuan yang amat memekakan telingan.
“PUTRAAA PULANG!!!” begitu teriakan sang ibu memanggil anaknya yang masih asik
bermain di sawah depan rumah Bersama teman temanya. Sang anak yang mendengar
suara sang ibu langsung terkejut sambil mencoba berdiri dari lumpur yang
menempel di seluruh tubuh sang anak. Setelah berhasil berdiri tegak sang anak
langsung melihat ke arah sang ibu dan“ SEBENTAR BUU…. 10 MENIT LAGIII” jawabnya.
Sang ibu yang mendengar jawaban sang anak mendengus kesal dan masuk ke rumah.
Sang anak yang melihat sang ibu masuk Kembali ke rumah langsung Kembali
melanjutkan kegiatan nya Bersama teman temanya. “Kenapa put?” tanya asa. “biasa
disuruh pulang sama ibu”. Tanpa mereka sadari mereka sudah bermain di sawah
berlumpur sejak pukul dua siang tadi hingga sore yang hampir berubah menjadi
gelap. “ ya udah besok lagi main nya, daripada di suruh sholat shbuh di shaff
paling depan lagi”. Langsung teringat beberapa minggu yang lalu di saat putra
pulan terlalu malam yang menyebabkan dia mendapat hukuman sholat shubuh di
shaff pertama selama tiga hari. Dia teringat dia harus bangun sebelum adzan
berkumandang dan harus ke musholla duluan dikarenakan di desa nya hanya
terdapat musholla kecil yang hanya dapat menampung 7 orang dewasa per shaff.
Dia harus mengambil air wudhu di pagi yang sangat dingin dan harus berjalan
cukp jauh untuk sampai ke musholla itu. Setelah mengingat kejadian tersebut aku
dan teman temanku langsung berlari pulang ke rumah masing masing. Tanpa
memedulikan baju dan celana kami yang sangat berat karena di penuhi oleh lumpur
basah. Dan juga tanpa memedulikan telapak kaki kami yang telanjang karena kami
memang tidak memiliki alas kaki.
Setibanya di rumah, di depan pintu
sudah berdiri sesosok perempuan yang sedang memegang sapu matanya melotot ke
arah ku seakan siap menelanku secara utuh.”KAMU LIAT JAM BERAPA SEKARANG. MAIN
TERUS GA INGET SHOLAT . SANA MANDI TERUS SHOLAT” teriak ibu sambal menjewer
telingaku dan menyeretku kedalam kamar mandi
Komentar
Posting Komentar